Prabowo
Agung, Budiastuti M.J. Tjaturetno, Satriyo Budi, Ashari Ahmad
Balai
Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian
Kegiatan
ini terdiri dari dua sub kegiatan, yaitu : pengembangan sistem irigasi mikro di
lapang dan pengembangan sistem kontrol otomatis suhu dan lengas tanah di
greenhouse. Pengembangan sistem irigasi mikro dilaksanakan di lahan percobaan
Natar milik BPTP Lampung. Sistem irigasi yang dikembangkan adalah irigasi tetes
untuk tanaman cabai dan irigasi curah untuk tanaman fitofarmaka (jahe). Luas
areal untuk pengembangan irigasi tetes adalah 1.156 m2 (0.12 ha) dan luas areal
untuk irigasi curah adalah 990 m2 (0.099 ha). Pertimbangan yang diperlukan
untuk penelitian rancangbangun irigasi tetes dan curah adalah: kondisi iklim,
tanah, tekstur tanah, struktur tanah, jenis tanaman, kualitas air dan kuantitas
sumber air. Satu set data iklim insitu lokasi Natar selama 6 tahun (2000 –
2005) yang diperoleh dari Stasiun Meteorologi Natar dipergunakan sebagai
masukan simulasi kebutuhan air tanaman. Simulasi data agroklimat, data tanah
dan data tanaman menggunakan program CROPWAT FAO. Parameter keberhasilan pola
pengoperasian irigasi tetes dan curah antara lain adalah : a). Nilai
keseragaman tetesan/curahan, b). Efisiensi penggunaan air, dan d).
Produktivitas air.
Perancangan
sistem kontrol suhu dan lengas tanah dilakukan di greenhouse BBP Mektan
Serpong. Greenhouse yang digunakan dalam kegiatan ini adalah greenhouse yang
sudah ada, yang mempunyai ukuran 9 m x 5 m x 5,2 m (p x l x t). Bahan atap
terbuat dari polycarbonate, dan dinding didominasi bahan kaca. Di dalam
greenhouse sudah dilengkapi dengan exhaust-fan dan inhaust-fan, masing-masing 3
buah. Komoditas yang akan ditanam adalah tanaman hias anggrek. Sesuai dengan
budidaya anggrek pada umumnya, di dalam greenhouse akan dilengkapi dengan
meja-meja sebagai tempat untuk meletakkan pot-pot anggrek. Sesuai dengan ukuran
greenhouse, jumlah meja yang akan ditempatkan di dalamnya 4 buah dengan ukuran
panjang 200 cm, lebar 80 cm dan tinggi 65 cm. Greenhouse tersebut juga
dilengkapi dengan jaringan irigasi tetes dan jaringan humidifier (pengatur
kelembaban). Parameter keberhasilan dari sistem kontrol yang dirancang antara
lain adalah : a). Responsibility kontrol, b). Akurasi sensor dan c). Kemampuan
mengkondisikan iklim mikro didalam greenhouse.
Hasil
uji kinerja lapang dari kedua sistem irigasi mikro yang dikembangkan di lahan
percobaan Natar milik BPTP Lampung dikategorikan baik. Untuk sistem irigasi
tetes, tingkat keseragaman distribusi tetesannya 87,11% dengan debit tetesan rata-rata 0.722
l/jam. Total air yang didistribusikan oleh sistem irigasi tetes adalah 536.085
m3/musim dan total kebutuhan air tanaman cabai mencapai 531.575 m3/musim,
sehingga efisiensi irigasi tetes adalah 99,16 %. Produktivitas air sistem
irigasi tetes hanya mencapai 1.06 kg/m3-air. Sedangkan untuk sistem irigasi
curah, tingkat keseragaman distribusi curahannya 80.17%, prosentase penurunan
tekanan pada pipa-pipa hanya mencapai 9.9 % dan prosentase penurunan debitnya
11.05 %. Total air yang didistribusikan oleh sistem irigasi curah adalah 495.47
m3/musim dan total kebutuhan air tanaman jahe adalah 459.84 m3/musim, sehingga
efisiensi irigasi yang diperoleh adalah 91.88 %. Produktivitas air sistem
irigasi curah mencapai 2 kg/m3-air. Biaya investasi sistem irigasi tetes
beserta motor penggerak adalah Rp.25.137.000,-/ha dan sistem irigasi curah
dengan motor penggeraknya adalah Rp.20.677.000,-/ha. Biaya operasional untuk
irigasi tetes adalah Rp. 1.988.084,-/musim dan untuk irigasi curah adalah Rp.
1.281.675,-/musim.
Dengan
adanya nilai produktivitas air, maka sumbangan pemanfaatan dan pengelolaan
irigasi mikro dalam proses produksi pertanian mampu meningkatkan kemanfaatan
input produksi lainnya yang mencakup biaya pupuk, pengolahan tanah, tenaga
kerja, dll. Dampak nyata terhadap proses pertumbuhan tanaman adalah berapa
banyak produksi yang dapat dihasilkan persatuan kejadian transpirasi tanam.
Sehingga peningkatan produktivitas air dalam suatu sistem irigasi konjungtif
(dalam hal ini tetes dan curah) perlu dukungan sinergi lintas pengetahuan
fisiologi tanaman, agronomi dan keteknikan pertanian.
Hasil
uji fungsional sistem kontrol suhu dan lengas tanah didalam greenhouse
menunjukkan hasil yang baik. Dalam hal responsibility kontrol, yaitu kemampuan
melaksanakan perintah dari sistem kontrol untuk menyalakan dan mematikan pompa
irigasi dan pompa pengabut dari sistem kontrol yang dibuat menunjukkan hasil
yang baik. Tingkat akurasi sensor suhu mencapai 0.99, yang artinya tingkat
akurasi sensor suhu baik. Sedangkan tingkat akurasi sensor kadar lengas
mencapai 0.80, yang menunjukkan bahwa tingkat akurasi sensor kadar lengas cukup
baik. Kemampuan pengkondisian suhu dapat dilihat dengan membandingkan antara
suhu di dalam greenhouse dengan suhu lingkungan (di luar greenhouse) dan range
suhu yang diinginkan. Dari hasil pengujian sistem kontrol dapat disimpulkan
bahwa sistem pendingin ruangan greenhouse belum dapat bekerja optimal yang
ditunjukkan dengan hasil pengukuran suhu yang sangat lama untuk mencapai
kondisi batas bawah suhu yang ditentukan (setting) terutama pada siang hari
sehingga sangat dipengaruhi oleh suhu lingkungan. Kemampuan pengkondisian kadar
lengas tanah dapat bekerja secara optimal. Hal ini dapat dilihat pada hasil
pengukuran kadar lengas tanah hasil pengujian. Kemampuan pengkondisian kadar
lengas tanah lebih banyak ditentukan oleh kecepatan kehilangan air di tanah
(media tanam), oleh karena kehilangan air di dalam tanah sangat kecil (lambat)
maka pengkondisian kadar lengas tanah mudah dilakukan.
Sistem
kontrol suhu dan lengas tanah diharapkan dapat bermanfaat dalam memberikan
suatu alternatif teknologi budidaya tanaman dengan pengontrolan terhadap suhu
dan lengas tanah secara otomatis sesuai dengan tingkat pertumbuhan tanaman
serta dapat memberikan informasi dan rekomendasi tentang perancangan dan
implementasi greenhouse untuk budidaya tanaman. Dampak dari pemanfaatan sistem
kontrol otomatis ini akan mampu mengatasi permasalahan yang biasa terjadi pada
pengontrolan secara manual (human operator) dalam hal tingkat akurasi
pengamatan dan perhitungan, kelelahan, subyektifitas, kejemuan,
ketidakseragaman serta ketidak telitian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar